Jatim mencapai US$ 408,64 juta sama dengan Rp. 4 triliun atau 40 % dari nilai ekspor perhiasan nasional tahun lalu sebesar US$ 1,02 milyar atau sekitar Rp.9,7 Triliun. Hal itu membuktikan kualitas produk perhiasan Jatim luar biasa, tidak kalah bersaing dengan produk dari negara lain.
Hal itu dikatakan Gubernur Jatim Dr. H. Soekarwo pada Pembukaan Surabaya International Jewellery Fair (SIJF), di Hotel Shangri-La Surabaya, Kamis (26/8) kemarin.
Menurut Gubernur, potensi Jatim dengan aneka ragam produk perhiasan emas, perak dan batu mulia, harus dipertahankan dan dikembangkan. Pengembangan desain yang dinamis dan kreatif merupakan suatu keharusan dalam perdagangan. “Pameran Perhiasan Internasional ini peluang yang baik. Untuk itu para pengusaha harus membuat produk perhiasan yang khas, sehingga ibu-ibu tidak perlu beli emas ke Abudabi,” ujarnya.
Dijelaskan, negara itu tiga hal yang dipentingkan yaitu trade, tourism, dan investmen (tanah, perijinan, kualitas buruh, baik dalam skill maupun etika). Khusus perijinan, Jatim satu-satunya Provinsi yang diberikan hak oleh Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) untuk mengurus Penanaman Modal Asing (PMA), tahun ini sudah mulai dilaksanakan di Pusat Pelayanan Terpadu (P2T) di gedung Brantas Jl. Pahlawan Surabaya.
“Sekarang sudah menjalin kerja sama dengan Kedutaan Besar Jepang, Perancis, Belgia sebagai pintu seluruh uni Eropa yang beranggotakan 27 negara untuk menjadi Chanelling terhadap investment. Kemudian disampaikan melalui web-site, mereka tidak harus datang ke Jatim, semua proses diurus pemerintah, setelah siap baru investor datang,” katanya meyakinkan.
Ketua Dekranasda Prov Jatim Dra. Hj. Nina Soekarwo, MSi mengatakan, “Selama saya menjadi Ketua sudah dua kali menyelenggarakan lomba desain perhiasan yang mengangkat tema ikon Jatim. Tahun depan akan terus ditingkatkan mungkin dengan tema yang berbeda. Hal ini memotivasi kalangan remaja maupun umum untuk mendesain dan memberikan nilai lebih pada nilai kreatifitas mereka masing-masing dari sisi keindahan dan seni,”.
Pameran yang khusus perhiasan seperti ini di Indonesia hanya ada di Jatim, oleh karena itu saya mengajak untuk menyaksikan hasil kreasi anak bangsa tidak hanya emas dan berlian tapi juga ada sepuhan dengan kreatifitas yang cukup bagus dengan desain seperti Kerajaan Majapahit, hal ini merupakan suatu bentuk apresiasi Dekranas terhadap pengrajin emas dan perhiasan. Selain itu, perkembangan ekonomi di Jatim sangat bagus, sehingga pengusaha emas bisa bersaing dengan baik, karena pembeli/ konsumen banyak. “Saya juga mengundang ibu-ibu dari Porvinsi lain, karena secara nasional Dekranasda sudah sering memfasilitasi para pengrajin mengadakan pameran sampai ke Jakarta,” tambahnya.
Sementara itu Kepala Disperindag Prov Jatim Ir. Zaenal Abidin, MM mengatakan, Pameran Perhiasan Internasional terbesar yang berlangsung tgl. 26 – 29 Agustus ini diikuti 110 stand para pengrajin perhiasan dari luar negeri, antara lain dari Malaysia, Singapura, Hongkong. Sedangkan dari dalam negeri berasal dari lima Provinsi yaitu Jakarta, Bali, Kalimantan, NTB dan Jatim. (mkl)
Teks foto :
- Soekarwo dan istri melihat beragam perhiasan yang dipamerkan di Shangri-La